Sabtu, 23 April 2011

PENGERTIAN MISKONSEPSI DALAM BAHASA ASING

PENDAHULUAN

I.    Pengertian Miskonsepsi
      Miskonsepsi terdiri dari dua kata, yaitu Mis dan Konsepsi. Mis berarti salah atau kesalahan. Konsepsi berarti pemikiran atau pemahaman. Jadi Miskonsepsi dalam arti terminologi adalah salah pemahaman. Kata ini digunakan juga dalam bidang disiplin ilmu yang lain, seperti miskomunikasi (salah berbicara), mispersepsi (salah berpendapat) mis informasi (salah dengar) dan lain-lain. Sedang menurut arti etimologinya  adalah pandangan dan pengetian yang salah memahami peristiwa atau penjelasan yang terjadi disebabkan oleh bimbingan dan pengajaran yang tidak benar.
Bahasa asing adalah bahasa selain bahasa Indonesia, karena kita hidup di negeri Indonesia. Andai hidup di negeri arab, maka bahasa Indonesia adalah termasuk rumpun bahasa asing. Yang dimaksud dengan bahasa asing dalam makalah ini, penulis batasi pada bahasa arab dan bahasa inggris. Dua buah materi pembelajaran ini di ajarkan di sekolah-sekolah agama maupun umum, swasta maupun negeri di Indonesia.
Bahasa asing salah satu materi yang sangat penting dipelajari dan merupakan kebutuhan dalam kehidupan manusia akhir-akhir ini. Komunikasi lisan terjadi ketika kedua insan saling bertemu dan berhadapan. Sementara kebutuhan berkomuniukasi akhir-akhir ini dengan manusia di belahan dunia  tidak hanya dilakukan secara lisan, berhadapan antar dua manusia atau lebih, tapi bisa dilakukan dengan menggunakan alat-alat informasi teknologi (IT) yang telah menjadi tren di kalangan masyarakat saat ini, seperti Hendphone. Telephone, pemancar radio, Televisi dan lain-lain. Untuk itu dua bahasa asing ini bukan sekedar pelengkap materi pelajaran di sekolah, tetapi menjadi kebutuhan yang harus dimiliki dan dikuasai oleh setiap anak didik dalam rangka mengikuti perkembangan zaman.
Pembelajaran bahasa asing di negeri kita sering dianggap sebagai materi “penambah pengalaman” atau sebagai kebanggaan saja, sehingga pembelajarannya sering tidak maksimal dan jarang sekali menggunakan metode yang baik (sesuai kemampuan anak didik), bahkan justeru melemahkan semangat anak didik belajar bahasa asing dengan sebaik-baiknya. Akibatnya yang muncul setelah itu adalah kesalah pahaman atau bahkan mis orientasi (salah tujuan/arah). Bila hal ini yang terjadi, siapa yang disalahkan. Guru atau siswa atau lingkungan yang salah ? Penulis akan menjawab hipotese ini sesuai dengaan referensi yang ada.
II.   Pengertian Pendidikan dan Pengajaran
      Pendidikan merupaka istilah yang mengandung pengertian yang lebih dari pengajaran. Dengan kata lain, pengajaran itu hanyalah merupakan bagian dari pendidikan saja, sebab pendidikan adalah bimbingan terhadap perkembangan pribadi seseorang dengan segala macam aspeknya. Mislanya segi cipta rasa, jasmani dan lain-lain. Sedangkan pengajaran hanya berhubungan dengan pembentukan cipta atau akal dengan menyampaikan pengetahuan  atau kecakapan [1]) . Ada pula yang memberi pengertian, bahwa pendidikan itu adalah usaha yang di jalankan oleh seseorang  atau  kelompok  orang   agar  menjadi  dewasa   atau mencapai tingkat hidup atau penghidupan yang lebih tinggi dalam arti mental [2])
      Dari definisi di atas, jelaslah bahwa unsur pendidikan dan pengajaran adalah secara umum bertujuan untuk menciptakan individu yang mempunyai pengertian dan konsepsi yang benar serta dapat mengaplikasikan konseps tersebut di tengah-tengah masyarakatnya.
      Miskonsepsi yang terjadi dalam pembelajaran bahasa arab setidak-tidaknya ada 6 (enam) poin, sebagai berikut :
1.      Belajar bahasa arab dianggap sulit, karena mereka menganggap, bahwa mereka harus bisa bercakap-cakap seperti orang arab
2.      Belajar bahasa arab tidak prospektif, karena tidak digunakan oleh instansi-instansi pemerintah atau swasta dan bukan merupakan kebutuhan, tapi sekedar “penambah pengalaman”
3.      Belajar bahasa arab terbatas kepada teknik berkomunikasi dengan orang-orang arab saja
4.      Belajar bahasa arab sulit dipelajari dan membutuhkan waktu yang lama, tidak seperti bahasa inggiris
5.      Belajar bahasa arab hanya untuk kalangan siswa-siswa keagamaan, seperti di Pesantren dan Madrasah-Madrasah saja.
6.      Belajar bahasa inggris dianggap suatu kebutuhan dan kebanggaan
7.      Bahasa arab semakin hari, semakin tidak dikenal oleh masyarakat luas, lebih-lebih masyarak perkotaan, sehingga pemahaman keagamaan mereka sangat rendah bahkan nonsen.

III   Pembelajaran Bahasa Asing
      Pembelajaran bahasa asing, dalam hal ini bahasa arab dan bahasa inggris mempunyai peranan yang sangat penting, utamanya dalam mengaplikasikan konsepsi-konsepsi yang pernah dipelajari di sekolah. Namun pembelajaran bahasa asing itu sangatlah sulit dipraktekkan dalam kehidupan sehar-hari tanpa adanya metode pembelajaran yang sesuai dengan kondisi dan kemampuan anak didiknya.
      Asumsi bahwa bahasa arab itu adalah materi yang mengajarkan percakapan saja atau materi yang hanya menuntut kefasihan berkomunikasi dengan orang-orang arab dan tidak mempunyai prospek yang cerah adalah keliru. Asumsi ini seakan telah menjadi aksioma di kalangan anak-anak didik, baik di Pesantren maupun di luar Pesantren saat ini. Asumsi seperti inilah yang  penulis sebut sebagai miskonsepsi. Dan bila konsep seperti ini menjadi pemahaman yang tak terbantahkan dalam jiwa anak didik, maka sulit sekali untuk merubahnya, bahkan akan berdampak kepada lemahnya motivasi dalam mempelajari bahasa asing itu dikemudian hari. Bila hal ini betul-betul terjadi, maka penulis lebih cenderung “menyalahkan” kepada guru atau pembimbingnya. Karena pembelajaran bahasa asing akan mudah dicerna dan difahami dengan benar, bila proses pembelajarannya menggunakan metode yang baik dan berorientasi pada upaya meraih tujuan yang diinginkan.
      Ada beberapa  langkah yang harus  ditempuh  oleh seorang pendidik atau guru
dalam  mengantisipasi  terjadinya  miskonsepsi  dalam  pembelajaran bahasa arab
terhadap anak didik di masa-masa akan datang, yaitu :
Pertama : Seorang guru atau pembimbing mampu mejelaskan tujuan belajar bahasa asing dengan sejalas-jelasnya dan dijelasknan pula kepada mereka macam-macam materi bahasa arab. Dan belajar bahasa arab bukan hanya bertujuan mencapai kefasihan bercakap-cakap dalam bahasa arab, syukur kalau anak-anak  didik kemudian bisa bercakap-cakap dengan bahasa arab, karena metode pembelajarananya yang digunakan guru mengarah kepada hal itu. Namun yang paling penting untuk difahami oleh mereka adalah tujuan umum dan khusus serta target yang ingin dicapai dalam belajar bahasa arab atau bahasa inggris.
Kedua : Seorang guru atau pembimbing  mampu membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) atau dalam bahasa arab-nya disebut I’dad Tadries. Dengan demikian arah dan tgarget pembelajaran itu akan diketahui dengan baik sesuai dengan kemampuan rasio anak-anak didiknya
Ketiga : Seorang guru mampu memilih berbagai metode ajar yang sesuai dengan kemampuan anak-anak didik dan mampu mengetrapkan secara sistematis, aplikatif dan evisien (SAE). Bila metode SAE ini dapat dipergunakan dengan baik oleh sorang guru, maka pembelajaran bahasa arab atau inggris itu dapat dilakukan dalam waktu yang tidak lama; kurang lebih 3 – 4 bulan, mereka akan mengenal maksud pembelajaran bahasa arab yang pada gilirannya mereka akan semakin termotivasi untuk belajar lebih tekun lagi.
IV.  Macam-Macam Metode Pembelajaran Bahasa Asing
      Metode pembelajaran bahasa arab atau Inggris  yang sering dipakai di lembaga-lembaga pendidikan Nasional maupun Internasional adalah sebagai berikut :
1.      Direct Method atau metode langsung  (Thoriqoh Mubasyaroh)
2.       Translation Method atau metode menerjemah ( Thoriqoh at Tarjamah)
3.      Natural Method  atau Thoriqoh at Thobi’iyah / Thofulah
4.      Berlitz Method atau disebut dengan metode Berlitz (penemunya). Dalam bahasa arab-nya disebut : Thoriqoh Berlitz yang dikenal dengan sebutan Qul wandzur
5.      Rassias Method atau Thoriqoh Tamtsiliyah (theater)
6.      Discussion Method atau metode diskusi (Thoriqoh Muhawarah /Mujadalah)
7.      Intraction Method  atau disebut Thoriqoh at ta’adul yang terdiri dari 4 M, yaitu Mendengarkan, Menghafal, Mengucapkan dan Menulis.
Dari berbagai metode tersebut di atas, seorang guru harus menguasai dan mampu mengaplikaiskan dengan sebaik-baiknya, sehingga mampu mencegah timbulnya miskonsepsi dalam pembelajaran bahasa asing ini [3])

V.   Kesimpulan
1.        Miskonsepsi berarti salah paham. Bila tidak segera diluruskan, niscaya akan menjadi aksioma (anggapan yang tak terbantahkan)
2.        Mayoritas miskonsepsi itu terjadi dalam bidang pendidikan materi bahasa asing yang justeru akan semakin melemahkan semangat mempelajarinya, seperti anggapan sulit, tidak prospektif, membutuhkan waktu lama dan lain-lain
3.        Untuk mengatasi miskonsepsi dibidang bahasa asing dituntut adanya seorang guru atau pembimbing yang betul-betul mampu mengajar baik (disiplin dan menyenangkan) serta mampu menyusun RPP dan memilih metode pembelajaran yang baik (sistematis aplikatif dan evisien). InsyaAllah dengan demikian miskonsepsi dalam bidang pembelajaran bahasa asing sedikit demi sedikit akan berubah dan aksioma yang selama ini menghantui jiwa anak didik akan terbantahkan.
4.        Terjadinya miskonsepsi bagi anak didik, sering disebabkan oleh kekurang mampuan guru atau pembimbingnya dalam mengajarkan atau mendidik dengan baik. Yang berdampak pada kelemahan belajar bahasa asing itu sendiri.


[1] ) Drs. Swarno, Pengantar Umum Pendidikan, Rineka Cipta:  1992
[2] ) Hasbullah, Dasar-Dasar Ilmu pendidikan, Raja Grafindo Persada, 2001
[3]) Drs. H. Muhammad Muhsin Amir Makalah: Tadris al lughah al arabiyah, 2005

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Silakan kirim komentar dan reaksi anda, akan menjadi masukan berharga buat saya !